Selasa, 20 Desember 2011

Feature Human Interest

Rahmad K. Satpam yang Tegas, Namun Tak  Beringas

Menjadi satpam mungkin tak perah terlintas sedikitpun dalam diri Rahmad ketika masa kecilnya dulu “Saya dulu tak mempunyai banyak harapan, bahkan berfikir untuk menjadi satpam” ujar pria lajang yang ditemui disela-sela kesibukannya memeriksa kendaraan yang hendak keluar area parkir.
Dibalik tubuh kekar dan pentungan yang selalu akrab terlihat melekat pada dirinya, ternyata satpam yang lahir di Kasihan Bantul ini mempunyai didikasih yang kuat dalam pekerjaannya.  

“Mengabdi untuk Muhamadiyah adalah gairah tersendiri” tegas pria yang lahir 31 yang silam itu. Sebelum bekerja menjadi satpam Rahmad begitu akrab panggilannya sempat mencicipi berbagai pekerjaan. Setelah lulus dari SLTA dia sempat bekerja menjadi teknisi disebuah perusahaan yang bergerak di Perindustrian, namun tak lama Rahmad keluar dan memilih masuk di Perusahan jasa pengiriman, pekerjaan itu pun masih belum cocok dengan dirinya. Akhirnya ajakan temannya membawa Rahmad mengikuti pelatihan satpam di Mako Brimob Polda DIY.
Setelah lulus dari diklat satpam tak lantas pekerjaan datang begitu saja. Rahmad mengirim 20 surat lamaran pekerjaan ke berbagai instansi atau perusahan, dan hanya satu panggilan. Setelah diterima dan berkerja sebagai satpam di UMY selama 3 tahun. Akhirnya Rammad mengundurkan diri karena faktor kenyamanan.
Bulan Desember 2009 Rahmad melamar pekerjaan di UAD, setelah melalui tahap seleksi akhirnya Rahmad diterima menjadi satpam kontrak di UAD. Walaupun begitu Rahmad mengaku nyaman bekerja di UAD “lingkungan yang kondusif dan bias berkumpul dengan orang-orang berintelektual tinggi bisa mempengarui diri saya” tandasnya ketika dimintai alasan  kenapa betah bekerja di UAD.
Pria yang gemar merawat burung merpati latih itu mempunyai perjalanan terjal semenjak masih kecil, kehidupan yang serbah apa adanya membuat Rahmad harus bisa pandai-pandai membiayai sekolahnya, “Sudah lulus SMA saja sudah Almahdulillah” ujarnya. Rahmad dilahirkan dari keluarga biasa mempunyai 6 saudara, bahkan untuk mencukupi biaya sekolahnya Rahmad harus menggembala dua ekor kambing setiap pulang sekolah. Saat itulah Rahmad benar-benar merasa kehidupan yang sangat berat dan sulit, namun berkat keinginannya yang keras untuk bisa selesai SMA akhirnya menghantarkan dirinya seperti sekarang menjadi satpam di perguruan tinggi Muhamadiyah “Setidaknya bisa terpengarus kalo kumpul dengan orang-orang pintar” tandasnya.
Masa sulit yang dialami oleh Rahmad menjadi cermin keterbatasan bukan menjadi penghalang, justru akan menjadi pelecut semangat untuk meraih apa yang diinginkan atau apa yang dicita-citakan. Pemuda yang lahir Juni 1980 juga aktif diorganisasi pemuda Muhamadiyah di kecamatan, ketertarika Rahmad terhadap organisasi juga sudah dilatih ketika masa sekolahnya. Menjadi pemuda karang taruna adalah kesibuakannya dia dulu.

Buah dari kerja kerasnya akhirnya dibayar mahal awal bulan Desember  2009 Rahmad mengawali pekerjaannya dan mengapdi di kampus II UAD “yang penting nyaman soal gaji itu belakangan” ujarnya sambil sedikitik tertawa kecil. Dalam bekerja Rahmad mengutamakan kenyamanan, seperti yang sudah-sudah dalam bekerja Rahmad selalu tidak betah dan akhirnya keluar jika tidak nyaman dalam suatu pekerjaan “Alhamdulillah saya betah disini, harapannya saya juga akan diangkat menjadi satpam tetap disini” tegasnya.
Disinggung soal gaji Rahmad mengatakan “Cukup dan tidak cukup itu bagaimana kita menyikapi” upah yang dibawah UMR memang lagi-lagi membawa dapat perekonomian menengah kebawah menjadi musuh nyata. Namun itu disikapi oleh Rahmad dengan suka rela, dan kembali pada niat awal. Pemuda yang belum menikah ini mempunyai cita-cita yang sangat luhur yakni ingin mengabdi untuk Muhamadiyah. Hal itu terlihat jelas dari mulai kecil Rahmad begitu panggilannya sudah kental dengan organisasi Muhamadiyah.
Harapan besar untuk meraih kesejahteraan hidup Rahmad muncul ketika berita yang diterima oleh Rahmad bahwa dia akan diangkat menjadi satpam tetap di UAD. Berita gembira ini semakin memotifasinya untuk semakin semangat dalam pekerjaannya mengamankan kampus UAD dan menertibkan orang-orang yang tak patuh terhadap peraturan.

“Rezeki patih, dan jodoh ditentukan Allah” ujarnya. Dalam menyikapi gaji yang pas-pasan bahkan kurang dari cukup untuk kebutuhan dizaman sekarang, mau tak mau Rahmad harus mengaturnya, apalagi orang tuanya sudah menuntut Rahmad untuk segera menikah. Pastinya butuh biaya besar untuk hal sepertu itu. “Umur saya sudah cukup untuk menikah, namun segalanya perlu saya persiapkan benar” ujarnya.
Pria yang mempunyai pedoman agama kuat ini mengaku bahwa dirinya masih punya cita-cita yang lebih dari sekedar satpam, namun pekerjaan yang sudah digelutinya sekarang sangat disyukuri benar-benar olehnya. “Manusia tidak akan merasa puas dengan apa yang didapat, setalah dapat yang satu mungkin akan menginginkan yang lain, begitu seterusnya” tegasnya. Banyak hal yang didapatkan oleh Rahmad selama bertugas di UAD, suka dan duka dialami olehnya, mulai dari orang-orang yang melanggar peraturan, dan terkadang dapat celaan dari orang yang ditegurnya.
Tak jarang juga Rahmad menemui orang yang melanggar peraturan namun malah membantah jika ditegur, “saya pernah menemui orang jelas-jelas dia melanggar peraturan merokok diarea kampus namun tidak mematikan rokoknya justru malah membantah” ujarnya. Berbagai karakter telah ditemukan oleh Rahmad dalam menjalankan tugasnya, suka duka dalam menjalankan tugas dinikmati dan sebagai pengalaman hidup mengenal jenis-jenis pribadi masing. Bahkan Pernah suatu ketika Rahmad menghentikan sepeda motor yang melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi diarea kampus, sontak saja rahmad langung menegur dan menghintikan sepeda motor tersebut “ Bisa pelan ndak Mas” ujar Rahmad, namun anehnya tak merasa bersalah atau minta maaf orang tersebut justru menbantah dengan mengatakan “Tidak bisa”. Setelah ditelusuri orang yang ditegur tersebut adalah salah satu dosen di UAD. Peristiwa yang tak akan pernah dilupakan oleh Rahmad dan menjadi bumbu penyedap dalam tugas menjalankan peraturan atau menegakkan peraturan yang ada.

Dalam menegakkan peraturan, Rahmad sering menemukan mahasiswa yang tidak mematuhi peraturan kampus, banyak sekali mahasiswa yang melanggar peraturan pakaian, bahkan Rahmad harus menegur secara langsung kepada mahasiswa yang memakai celada pendek. Hal ini dilakukan oleh Rahmad karena memang sudah menjadi kewajibannya menertibkan mahasiswa yang bandel.
Peraturan yang dibuat oleh kampus ada kalanya susah untuk diwujudkan oleh para mahasiswa, salah satu peraturan itu yakni kampus bebas dari asab rokok,  “kampus bebas area merokok
                                                                                                                  
Bekerja di perguruan tinggi sangat dirasakan berbeda betul dengan pekerjaan yang lain, hal ini dirasakan oleh Rahmad selama bekerja di UAD. “setiap hari besar Islam atau tanggal merah saya libur, dan ini berbeda dengan apa yang kurasakan ketika bekerja di instansi-instansi diluar UAD” ujarnya. Menjadi sangat indah jika dalam bekerja ada sitem libur yang layak, karena dalam bekerja siapaun orangnya pasti ada titik jenuh yang ada pada dirinya.
Rahmad yang gemar memelihara burung merpati ini mengatakan “saya ada dilingkungan akademik, omongan saya jadi iku akademik, itu saja terdengar, dan itu sedikit ilmu yang bermanfaat untukku” tak heran jika Rahmad merasa betah bekerja di UAD walaupun hanya sebagai satpam. Mungkin dalam benak diri Rahmad menyimpan keinginannya untuk bias melanjutkan studinya, namun Rahmad munkin meyadari kemampuannya hanya sebatas satpam, realita yang sungguh berbanding terbalik dengan orang-orang yang serba tercukupi. (NH)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar