Minggu, 30 Januari 2011

MAKALAH ANALISIS PUISI DENGAN METODE INTERTEKSTUAL

ANALISIS
GAYA SUREALISTIS DALAM STRUKTUR KEPUITISAN
PUISI “KAU INI BAGAIMANA” DAN “BILA KU TITIPKAN
KARYA A. MUSTOFA BISRI
Makalah








Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mid Semester
Mata Kuliah Puisi I

Oleh:
NOR HIDAYAT
09003195
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2010



A.      PENDAHULUAN

1.        LATAR BELAKANG

          Karya sastra puisi adalah satu dari sekian banyak karya satra yang cukup menarik untuk di pelajari. Untuk itu perlu di ketahui mengenai struktur dan unsur pembentuk lainnya di antaranya yakni surealitas dalam sajak, seperti adanya representasi (mengubah pikiran menjadi bayangan visual kedalam bahasa) tidaklah cukup hanya dengan menemukan meaning unsur-unsurnya, tetapi harus sampai tataran semiotik, dengan membongkar kode sastra secara struktural atas dasar significance-nya. Misalnya, adanya penyimpangan dari kode bahasa dan makna yang biasa disebut ungramaticalities, yang secara mimetik mendapatkan significance secara semiotik dengan latar belakang karya satra yang di simpanginya (dalam bagian 3 ini pada estestikanya saja) (Teeuw, 1983:65).

          Di samping itu, prinsip intertekstualitas juga digunakan untuk mengetahui hubungan dan pertentangan dengan karya sastra lain, sehubungan dengan aktivitas bahasa yang mendukung eststika surealistis sajak A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Dalam memahami sajak digunakan metode pembacaan heuristik, yakni dengan mengartikan satuan linguistik yang digunakan sesuai dengan konvensi bahasa yang berlaku. Kemudian, untuk menjelaskan kedudukan sebuah frasa ataupun kalimat, apakah sebagai lanskap biasa ataukah citra-simbolik, maka harus diketahui makna frasa ataupun kalimat itu. Karenanya, diperlukan pembacaan hermeneutik, yakni dengan menyebut makna yang terkandung di dalam teks, yang hal itu sangat ditentukan oleh kompetensi linguistik (Riffaterre, 1978:4-6).

          Yang perlu diperhatikan dalam pembahasan subbagian dalam karya puisi harus dilakukan dengan cara mengupas kecenderungan sajak sehubungan dengan masalah pokok yang sedang dibahas, antara lain tentang apa, mengapa, bagaimana, relevansinaya, klasifikasinya, penilaiaannya, gagal atau berhasilnya.

          Untuk itu akan dianalisis didalam makalah ini tentang struktur  kepuitisan dalam puisi “ Kau ini bagaimana” dan “Bila kutitipkan” karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus) teori yang digunakan dalam menganalisis puisi ini yakni dengan menggunakan analisis stuktural semiotik yang akan bisa menjelaskan struktur yang ada didalam puisi karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus).

2.        RUMUSAN MASALAH

          Untuk memecahkan atau membongkar struktur kepuitisan, penulis menganalisis dengan menggunakan teori struktural semoiotik dengan membongkar diksi, gaya bahasa, citraan, dan sarana retorika. Dalam hal ini penulis mengambil puisi karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang akan dianalisis adalah puisi berjudul   “Kau ini bagaimana” dan “Bila kutitipkan” untuk dikaji dan dianalisis.

3.  TUJUAN
          Penjelasan yang lebih detail akan menjadikan pembaca lebih mudah memahami karya sastra puisi yang ditulis oleh penulis A. Mustofa Bisri (Gus Mus) Tujuan dalam analisis ini adalah untuk memahami dan mengetahui struktur kepuitisan dalam puisi “Kau Ini Bagaimana” dan “Bila Kutitipkan” karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang berkaitan dengan diksi, gaya bahasa, citraan, dan saran retorika. Hal ini dilakukan untuk menarik dan memberi pengetahuan apa maksud yang ingin disampaikan oleh sang penulis.


B.     TEORI DAN METODE ANALISIS

I.            Teori dan Struktural Semiotik
          Surialisme mempunyai arti unggul yang melampui tuntutan logika dan kegunaan. Surealisme disebabkan oleh permainan imajinasi yang ditimbulkan oleh bawah sadar (Hartoko dan Rahmanto, 1986:40) Panerapan pada citraan, misalnya dengan teknik metaforik, yaitu membaurkan antara empiris dan realitas imajiner. 
          Didalam karya sastra puisi mempunyai bentuk pengungkapan didalam sajak. Bentuk pengungkapan ini membawa gaya ungkap yang khas, yang membedakan sajak masing-masing penyair ketidaksamaan dalam menampilkan bahasa didalam sajak disebabkan oleh subjektivitas pemahaman atau pemikiran tatkala memaknai objek. Subjektivitas juga yang menyebabkan ide seorang penyair berbeda dengan penyair lainnya meskipun objeknya sama. Subjektivitas juga menyebabkan sikap, ekspresi, emosi serta keputusan spontan seorang penyair terhadap pengalaman, alam, dan kehidupan menjadi mempribadi dan berkembang. Tentu saja perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi sosial, psikologi, dan pengalaman rohani.
          Sajak  adalah semacam penggunaan bahasa (Teeuw, 1983:1). Didalamnya terkandung unsur kepuitisan dan makna. Pada saat tertentu, aspek kepuitisan ini menjadi menentu, aspek kepuitisan ini menjadi menentukan dan memberi gambaran tentang sejauh mana penyair mempunyai daya cipta yang orisinal, serta akan memberi pengertian pembaca (Pradopo dkk., 1978:35).
          Aspek kepuitisan dan makna, baik bagian maupun keseluruhannya berada di dalam pengucapan bahasa sebab karya satra bermediakan bahasa. Sementara itu bahasa itu sebelum menjadi sajak telah mempunyai arti sebagai sistem semiotik tingkat pertama, sedangkan selanjutnya ketika menjadi sajak, bahasa ditingkatkan sistemnya menjadi makna (significance) sebagai semiotik tingkat kedua (Pradopo, KR, 17 Januari 1988).
          Dengan begitu sajak menjadi suatu struktur yang kompleks, antara aspek kepuitisan dan aspek makna saling berkaitan (Pradopo,1987:120). Pandangan demikian berangkat dari prinsip strukturalisme, yang memahami dunia sebagai bentuk dari hubungan antarbenda (Hawkes,1978:17). Setiap unsur dari suatu hal tidak memiliki makna sendiri-sendiri, tetapi eksistensinya lebih ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsur yang terlibat didalam situasi tersebut ( Hawkws, 1978:17)
Dalam memberi makna sebuah karya sastra harus dimulai dengan menemukan meaning unsur-unsurnya, yaitu kata-katanya, menurut kemampuan bahasanya yang berdasarkan fungsinya bahasa sebagai alat komunikasi tentang gejala didunia luar: mimetic function, tetapi kemudian dia harus meningkat ke tatataran semiotik, di mana kode karya itu harus dibongkar (dekoding) secara struktural, atas dasar significance-nya; penyimpangan dari kode bahasa, dari makna biasa yang disebut Riffaterre ungrammaticalities secara mimetik mendapatkan significance secara semiotik, dengan latar belakang keseluruhan karya sastra yang disimpanginya (Teeuw, 1983:65).         

II.            Metode Struktural Semiotik
          Dengan menggunakan teori Struktural semiotik  maka akan dianalisis sebuah karya puisi dengan memakai metode analisis dengan pemaknaan atau arti sebagai berikut.
a)        Sajak dianalisis ke dalam unsur-unsurnya dengan memperhatikan saling hubungan antar unsur-unsurnya dengan keseluruhanya.
b)        Tiap unsur sajak itu dan keseluruhannya diberi makna sesuai dengan konvensi puisi.
c)        Setelah sajak dianalisis ke dalam unsur-unsurnya dilakukan pemaknaannya, sajak dikembalikan kepada makna totalitasnya dalam kerangka semiotik.
d)       Untuk pemaknaan itu diperlukan pembacaan semiotik, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (Riffarterre, 1978:5-6)
          Disini penulis akan menganalisis karya sastra puisi karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang berjudul  “Kau ini bagamana” dan  “Bila Kutitipkan” yang menggunakan metode analisis. Metode yang pertama digunakan yaitu menggunakan  metode analisis sajak ke dalam unsur-unsur yang berkaitan, dengan memperhatikan dan menghubungkan antara unsur-unsur yang saling berkaitan dengan keseluruhan kata. Disini juga Penulis hanya  menganalisis struktur kepuitisan  yang berupa diksi, gaya bahasa, citraan, dan sarana retorika. 

 i.          Sajak yang di analisis

“Bila kutitipkan”

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung

Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api.
Tapi

Akan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku

Ku
simpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku

Ku
simpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut pahamku

Ku simpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku
Ku simpan sendiri
       A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

      “Kau ini bagaimana”
Kau ini bagaimana? Atau aku harus bagaimana?
kau ini bagaimana? Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain
Kau ini bagaimana?

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana?

Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab
Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana?

Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana?

Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif  kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana?

Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
Atau aku harus bagaimana?
Karya: A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

ii.          Diksi (Pilihan kata)
          Untuk menilai gaya surealistik sajak A. Mustofa Bisri (Gus Mus), terlebih dahulu harus dianalisis struktur kepuitisannya sebagai bagian dari keseluruhannya (via Pradopo, 1987:120). Gaya surealistis A. M ustofa Bisri (Gus Mus) dianalisis dan dinilai dengan diksi, bahasa kiasan,  citraan, sarana retorik, dan gaya sajak. Kata ditempatkan sebagai hal yang vital dalam sajak sebab melalui kata penyair mampu menyampaikan pikiran-pikiran dan perasaan atau momen puitiknya meskipun dengan ketaklangsungan ekspresi dan bersifat arbitrer. Subagio Sastrowardoyo barangkali merupakan contoh yang baik. Sebagai penyair, ia dengan sadar menempatkan kata begitu penting dalam kehidupan dan puisi-puisinya (Abdul Wahid B.S, 2010:67).
          M.H. Abrams berpandangan bahwa pilihan kata dalam sajak diartikan sebagai pilihan kata atau frase dalam karya sastra (1981:13)
          “kau ini bagaimana,” Pada kalimat tersebut sang penulis mencoba mempertanyakan dan mengulang-ulang  kalimat “kau ini bagaimana” dalam sajaknya puisi tersebut terkesan mengkritik dari semua lapisan masyarakat, tokoh masyarakat dan para pejabat. sebagai contoh kebiasaan di masyarakat ternyata masih kurang dari semua aspek dijelaskan pada sajak  “kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya” pada sajak “aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya” penulis mencoba menggambarkan fakta di masyarakat bahwa para penegak-penegak hukum itu melanggar hukum yang harusnya di tegakkan oleh penegak hukum itu sendiri. Sajak “ aku kau suru berdisiplin, kau mencontohkan yang lain” penulis mengkritik para tokoh atau pejabat tentang peraturan atau sebuah tata tertip tersebut harus di patuhi, namun pejabat itu sendiri tidak mencontohkan apa yang diomongkan atau yang telah di sampaikan oleh para tokoh atau pejabat itu sendiri. Dan pada sajak “kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah” pemerintah dalam sajak ini sangat jelas dikritik ketika pemerintah menggalakkan ingin menjadikan negara ini pengekspor beras, tetapi disisilain pemerintah dengan secara tidak langsung mengijinkan bangunan-bangunan gedung tinggi yang aslinya menjadi persawahan milik petani disulap menjadi gedung-gedung tinggi. Itulah sebagian contoh sajak dari A. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang sangat menekankan untuk mengintropeksi diri supaya lebih baik untuk kemajuan bersama.

iii.          Bahasa Kiasan

          Dalam pembicaraan sajak, bahasa sering dihubungkan dengan seberapa jauh penyair menggunakan bahasa kiasan sebagai alat untuk mencapai kepuitisan. Sekalipun ada sajak  yang tidak dominan menampilkan kiasan kiasan, dalam banyak hal kiasan untuk sajak itu penting peranannya sebagai upaya penyair menggandakan makna dalam sajaknya.

          Adapun bagi sajak-sajak A. Mustofa Bisri analisis bahasa kiasan merupakan bagian penting dalam upaya memahami dan menilai sejauh mana surialitas yang terkandung, sebab surialitas merupakan bagian dari gaya ungkap, atau sebagai sarana kepuitisan. Dan salah satu dari bahasa kepuitisan itu adalah bahasa kiasan.

          Michael Riffaterre mengatakan bahwa puisi itu menyatakan sesuatu secara tidak langsung, yaitu menyatakan sesuatu yang berarti yang lain (1978:1). Sejalan dengan itu  A.S. Hornby mengatakan bahwa bahasa kiasan meliputi segala jenis ungkapan yang melibatkan penggunaan kata atau frasa dengan arti lain, selain arti harfiahnya (via pradopo, 1978:41)

          Bahasa kiasan memang merupakan bagian dari ketaklangsungan pengucapan sajak, yaitu dengan memindahkan dan atau pengertian arti yang disebabkan oleh penggunaan bahasa kiasan, seperti metafora dan metonimi. Pengunaan bahasa  kiasan akan lebih menarik perhatian dan mempunyai unsur kepuitisan lainnya. Diantara bahasa kiasan itu yakni metafora, personifikasin dll. Sebagai contoh analisis Bahasa kiasan dipakai oleh karya sastra yang berjudul “kau ini bagaimana” dan “bila kutitipkan” karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Sebagai contoh judul puisi  A.   Mustofa Bisri yang mengandung bahasa kiasan pada puisi yang berjudul “kau ini bagaimana” pada sajaknya terdapat kalimat “kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat” bahasa kiasan diungkapkan secara tidak jelas. Dan pada sajak “kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai” kalimat perlawanan digunakan dalam pengungkapan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis puisi.
   
1)      Personifikasi

          Jan van Luxemburg melihat bentuk kiasan personifikasi ini sebagai “Aspek arti dari suatu yang hidup dialihkan kepada suatu yang tidak bernyawa” (Luxemburg, hal. 140). Begitu pula pengertian yang diberikan oleh Gorys Keraf bahwa “personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan” (Keraf, hal. 140). Bahkan L. Perrine menyebut personifikasi sebagai anak jenis metafora karena adanya perbandingan yang tersembunyi, istilah kiasan perbandingannya selalu berupa manusia (Perrine via Pradopo, 1978:47).

          Bila di amati puisi karya A. Mustofa bisri (Gus Mus) pada puisinya yang berjudul “bila ku titipkan” terdapat sajak “bila ku titipkan resahku pada angin pastilah angin menyeru badai” penggunaan majas personifikasi diletakkan pada sajaknya membuat hidup alam yang sesungguhnya tak bernyawa dan tak mempunyai pikiran, perasaan untuk menilai pada dasarnya kata titipkan adalah kata yang mempuyai arti memberi atau mempasrahkan sesuatu kepada seseorang tetapi kata menitipkan digabungkan menjadi maksud atau penggabungan dengan kata angin. Pada sajak ini “bila ku titipkan geramku pada laut, pastilah laut menggiring gelombang” geram adalah sebuah perasaan yang lanzimnya terdapat pada perasaan manusia yang kecewa tetapi disini penulis mencoba mengungkapkan kegeraman digabungkan dengan gelombang (alam). Dan sajak “bila ku titipkan dendamku pada gunung, pastilah gunung meluapkan api”  inilah pemakaian personifikasi terdapat kata dendam dengan api penulis menjadikan kata yang berbeda tetapi mempunyai maksud satu tujuan.

2)      Metafora

          A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam karya puisinya yang berjudul “bila kutitipkan” sang penulis mengambarkan kekecewaan terberatnya. Menggambarkan kedukaannya begitu berat sampai dihubungkan dengan bencana alam yang ada disekitarnya,   “pastilah langit memanggil mendung” “pastilah angin menyeru badai” pastilah lsaut menggirimg gelombang” “pastilah gunung meluapkan api”. Penulis menggambarkan begitu berat cobaan yang menimpa pada dirinya. Disini sajak yang dipakai unsur kepuitisan yang kental terasa dalam mengambarkan sebuah kalimat yang tak nyata atau dapat dilihat dengan gambaran visual tetapi penulis berusaha mengabungkan antara pikiran dengan alam.

          Namun dalam sajaknya juga ditemuka pengabungan antara jiwa (psikologis) dengan alam. Seakan-akan jiwa perasaan bisa menyatu dengan alam (gunung,laut,mendung,langit) yang semuanya itu dihubungkan dengan perasaan. Disamping itu walaupun penulis menggambarkan kedukaannya yang sangat berat penulis mempunyai pesan atau maksud yang tersimpan dalam sajaknnya. “Tapi” akan ku simpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku” yakni walau masalah sebanyak apapun/sekecewa apapun penulis tetap mengambarkan kesabaran, bebesaran hatinya yang menyimpan sendiri masalahnya tampa diketahui orang lain. Dimaksudkan agar tidak memberi beban pada orang lain dan dapat mengendalikan emosinya atas masalah kekecewaan yang penulis alami.    




iv.          Citraan

          Dalam sebuah sajak, yang terpinting ialah bagaimana seorang penyair berkemampuan menghidupkan (apa) dunia yang dibagunnya melalui kekuatan bahasa yang khas yang dimilikinya. Kata “menghidupkan” terhadap apa yang dibangunnya itu tentu saja menyangkut keutuhan antara bentuk dan isi sajak, sebagaimana pernah dikemukakan Goenawan Mohammad,”...puisi...pertama-tama hadir sebagai keutuhan”.

          Keutuhan ini perlu sebab sajak sangat mengutamakan kata-kata sebagai pendukung imaji meski kata-kata itu juga berperan sebagai lambang. Hal demikian ini dapat dikatakan ada di setiap aliran sajak, baik itu simbolisme, surealisme, maupun imajisme. Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan hal yang sama, “kata-kata tidak sekedar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung itu tak bisa dilenyapkan, namun yang utama ialah sebagai objek pendukung imaji (Budaya Jaya, no. 20, th. III, Januari 1 970)

          Kata-kata sebagai pendukung imaji tersebut tidak lain merupakan citraan. Dalam sajak, citraan umumnya digunakna dalam dua pengertian, yakni sebagai pengalaman indra, dan bentuk bahasa yang dipergunakan untuk menyampaikan pengalaman indra itu.  Tentu saja, sebuah sajak yang baik senantiasa memperhitungkan adanya keutuhan antara bentuk dan isi, keutuhan penggambaran-penggambaran imajinya sehingga mampu memberi nuansa berimajinasi dan berpikir kepada pembaca. Di samping itu, menurut Rene Wellek, ”penggambaran” itu menunjukkan adanya pandangan hidup (weltanschauung) yang tersirat dalam karya sastra tersebut (Wellek, 1987:246).


          Adanya beberapa istilah dan kegunaan sehubungan dengan citraan ini, yaitu image dan imagery, yang batasan pemakaiannya sebagaimana diuraikan berikut ini. Image adalah impresi yang terbentuk pada imajinasi melalui sebuah kata atau serangkaian kata; seringkali merupakan gambaran angan-angan (Monfries via Pradopo dkk., 1978:53)

          Gambaran dari pengalaman indrawi dalam puisi disebut imagery. Imagery tidak hanya terdiri dari ‘gambaran mental’, tetapi dapat menggugah indra-indra lain (Broks dan Werren via pradopo, 1978:53). Menurut H. Coombes, seorang pengarang yang baik menggunakan image yang segar dan hidup dengan tujuan memperjelas dan memperkaya. Image yang berhasil akan membantu menghayati atau subjek terhadap objek atau situasi yang digarap oleh pengarang secara cermat dan hidup (1966:43).

          Dalam karya sastra puisi A. Mustofa Bisri “kau ini bagaimana” dan “bila kutipkan” penulis berani menggambarkan apa yang ia lihat (visual). Pengambaran dimasyarakat sebagai contoh “aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya” “kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya” “ aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya” dan “aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bissawab” bangunan citraan puisi menggambarkan hal-hal yang umum dan kabur (tapi enak didengar). Citraan juga bersifat persepsi dan mewakili sesuatu yang tidak nampak.

v.          Sarana Retorik

          Sarana retorika dalam sajak sering kali dikaitkan dengan gaya ungkap pribadi seorang penyair. Ada kesamaan antara gaya retoris dengan bahasa kiasan, yakni sama-sama mengadakan penyimpangan dari struktur bahasa setandar. Disamping itu, ada juga perbedaannya, yaitu bahwa gaya bahasa retoris itu semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, sedangkan gaya bahasa kiasan merupakan penyimpangan lebih jauh, khususnya dalam bidang makna (Keraf,1990:2), Lynn Altenbernd pernah mengemukakan bahwa sarana retorika merupakan sarana kepuitisan yang berupa muslihat pikiran ( 1969:2), yang efek pemakaiannya ialah menarik perhatian dan pemikiran pembaca sehingga sarana tertantang untuk mencari makna sajak yang dibaca

          Pada umumnya, sarana retorika itu selalu menimbulkan ketegasan puitis sebab pembaca harus memikirkan efek apa yang di timbulkan dan di maksudkan oleh citraan simbolik yang menyimpan gagasan penyair.

          Pada sajak puisi A. Mustofa Bisri (Gus Mus)  ialah mengabungkan antara citraan dan alam yang sebenarnya berjauhan sifat dan hakikatnya dalam keseruangan. Contohnya baris sajak berikut ini.

 
Bila ku titipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Pastilah gunung meluapkan api

(Bila kutitipkan, Gus Mus)

          Pada ungkapan sajak tersebut ada kesan pengabungan antara pikiran dengan alam, seperti “bila kutitipkan geramku pada laut” itulah ciri ungkapan surialistis, yaitu penuh dengan hiperbola dan melebih-lebihkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi antara perasaan dengan alam.


C.     KESIMPULAN

          Dalam kehidupan manusia tak lepas dari perjalanan yang indah, bahagia, cobaan, dan masalah. Puisi merupakan karya sastra yang bisa menggambarkan perasaan, masalah dimasyarakat bahkan masalah pada diri sendiri, mengungkapkan perasaan dalam hati dengan sebuah sajak yang dipilih dengan diksi-diksi yang baik sehingga dapat terbuat karya yang baik, mempunyai nilai seni yang tinggi merupakan sebuah karya yang baik dapat menyentuh perasaan penulis dan pembaca. Pembacapun dapat memahami karya puisi dengan  mudah dan tersentuh hatinya. Maka dari itu penulis membuat karyanya dengan pemilihan kata (diksi) yang dapat mewakili perasaan sang penulis dan diungkapkan dengan tulisan atau karya satra puisi.

          Puisi yang berjudul  “kau ini bagaimana” dan “ bila kutitipkan” dapat dianalisis bahwa terdapat bahasa kiasan, pemilihan kata (diksi) yang sangat indah jika digabungkan dengan diksi-diksi yang lain, citraan dan sebagainya ini dapat diambil kesimpulan bahwa penulis A. Mustofa Bisri (Gus Mus) membuat puisi sangat memperhitungkan arti, makna, dan diksi dalam pembentukan sajaknya. Sehingga dapat menjadi sebuah karya sastra yang baik dan mempunyai makna yang luasdan bermanfaat bagi banyak orang. 


`






DAFTAR PUSTAKA
Wachid, Abdul.2010.Analisis Struktural Semiotik.Yogyakarta: Cinta Buku
Asphani, Hasan.2007.Menapak ke Puncak Sajak.Depok: Koekoesan
Pradopo, Rachmat Djoko.2009.Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapanya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
_________.2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar